JAWA TENGAH

Klenteng Cu An Kiong Lasem: Menjejak Klenteng Tertua di Tanah Jawa

Sumber Gambar : Google Map

Wisatarakyat.com – Di tepi Sungai Babagan, Desa Soditan, Kecamatan Lasem, berdiri bangunan merah dengan gapura berornamen naga yang usianya sudah ratusan tahun. Atapnya melengkung khas arsitektur Tiongkok Selatan, dindingnya dipenuhi mural yang bercerita panjang, dan dua tiang kayu jati di ruang utamanya belum pernah diganti sejak awal berdiri. Itulah Klenteng Cu An Kiong, salah satu bangunan paling dihormati di kawasan yang dikenal sebagai Tiongkok Kecil di Rembang.

Kalau kamu sedang menyusun rencana jalan-jalan ke Rembang, klenteng ini biasanya jadi titik wajib bersama beberapa rumah kuno dan klenteng lain di Lasem. Banyak yang menemukannya lewat paket wisata Lasem karena rutenya memang sering digabung dengan susur kampung batik dan bangunan pecinan di sekitarnya. Sebelum berangkat, ada baiknya kamu kenalan dulu sama cerita panjang di balik klenteng tertua ini.

Klenteng yang Usianya Masih Jadi Misteri

Nggak ada satu pun catatan pasti yang bisa menyebutkan kapan tepatnya Klenteng Cu An Kiong dibangun. Penjarahan yang dilakukan tentara Belanda pada masa penjajahan diyakini turut menghilangkan banyak bukti sejarahnya.

Menurut cerita bio kong atau penjaga klenteng, bangunan ini diperkirakan berdiri sekitar abad ke-16, dibangun oleh orang-orang Tionghoa yang berlabuh di Lasem. Tapi ada juga versi lain yang menyebutkan klenteng ini sudah ada sejak abad ke-15. Sebuah dokumen kuno yang ditemukan di salah satu museum di Den Haag, Belanda, bahkan menyebut klenteng ini sudah tercantum dalam peta Lasem yang dibuat pada tahun 1477.

Ada pula pendapat lain yang menyebut angka lebih tua lagi, yaitu tahun 1335. Karena minimnya catatan pasti, banyak sejarawan lokal menganggap Cu An Kiong sebagai klenteng tertua di Lasem, bahkan diyakini sebagai klenteng tertua di seluruh Pulau Jawa.

Yang jelas, para pendatang Tionghoa pertama kali membuka kawasan ini untuk berdagang, memanfaatkan Sungai Babagan yang saat itu cukup lebar sebagai jalur keluar masuk kapal. Dari aktivitas dagang itulah warga Tionghoa mulai menetap dan membangun komunitas yang bertahan hingga sekarang.

Kayu Jati yang Nggak Pernah Diganti

Salah satu hal paling menarik dari klenteng ini adalah material bangunannya. Berbeda dari dugaan banyak orang bahwa klenteng tua semacam ini dibangun dari kayu kapal, Cu An Kiong justru memakai kayu jati lokal yang saat itu tumbuh subur di kawasan Lasem.

Begitu kamu masuk ke ruang tengah klenteng, kamu bakal disambut dua batang kayu jati besar yang berfungsi sebagai penyangga utama bangunan. Kayu ini dipercaya belum pernah diganti sejak awal klenteng didirikan, hanya sesekali mendapat perawatan berkala. Meski masih terlihat kokoh, beberapa bagian kayu ini memang mulai lapuk dimakan usia, cukup wajar untuk bangunan yang sudah bertahan ratusan tahun.

Klenteng ini pernah mengalami renovasi besar pada tahun 1838, tepatnya untuk meninggikan lantai bangunan karena kawasan ini sering dilanda banjir akibat posisinya yang persis di depan sungai. Ada juga catatan renovasi besar-besaran lain pada tahun 1869, yang memperkuat struktur klenteng agar tetap bertahan hingga masa sekarang.

Ornamen dan Mural yang Penuh Cerita

Begitu kamu melangkah masuk melewati gapura bernaga, suasana khas Tiongkok Selatan langsung terasa kental. Bentuk bangunannya mengikuti gaya siheyuan, tata ruang berbentuk persegi yang khas arsitektur Cina bagian selatan, dilengkapi atap ekor walet yang dulunya hanya dipakai untuk bangunan kuil dan kantor pemerintahan.

Di teras klenteng, kamu bisa menemukan ukiran burung phoenix di sisi kiri sebagai simbol Yin, dan ukiran naga di sisi kanan sebagai simbol Yang. Kombinasi keduanya melambangkan keseimbangan yang jadi nilai penting dalam filosofi Tionghoa.

Yang bikin klenteng ini makin istimewa adalah mural monokrom di dinding dalamnya, diambil dari seratus panel cerita legendaris Fengshen Yanyi, kisah mitologi para dewa Tao yang mengisahkan pergolakan antara Dinasti Shang dan Dinasti Zhou. Detail goresan pada mural ini begitu halus sampai gambarnya terasa hidup meski sudah berusia ratusan tahun.

Selain mural, ada juga ukiran diorama yang terinspirasi dari kisah klasik Roman Tiga Negara. Beberapa dinding klenteng bahkan memuat pesan moral dari para leluhur untuk generasi muda, salah satunya soal kejujuran dan larangan mengambil hak milik orang lain.

Dewi Laut yang Jadi Pusat Ibadah

Klenteng Cu An Kiong didedikasikan untuk Dewi Samudra, Ma Zu, yang dipercaya sebagai pelindung para pelaut. Ini masuk akal mengingat sejarah panjang klenteng ini yang lahir dari komunitas pedagang Tionghoa yang datang lewat jalur laut.

Ruang utama tempat altar Ma Zu berada terletak di bagian belakang klenteng dan tidak terbuka untuk umum. Sebagai penghormatan, pengunjung juga tabu mengabadikan figur Ma Zu menggunakan kamera. Selain altar utama, ada ruangan khusus yang berisi puluhan kio atau tandu untuk mengangkat dewa saat acara kirab tertentu, salah satunya konon berusia sekitar 600 tahun.

Di halaman klenteng, kamu juga akan menemukan Monumen Perjuangan Laskar Tionghoa dan Jawa Melawan VOC tahun 1740-1743, sebuah patung yang menggambarkan para pejuang lokal saat melawan penjajah. Monumen ini jadi bukti nyata bahwa masyarakat Tionghoa dan Jawa pernah berjuang bersama di masa lalu, bukan sekadar hidup berdampingan.

Bukan Cuma Tempat Ibadah, Tapi Juga Lokasi Syuting Film

Popularitas Cu An Kiong nggak cuma soal sejarah dan arsitektur. Klenteng ini pernah jadi lokasi syuting film Ca-Bau-Kan pada tahun 2002, yang makin memperkenalkan bangunan ini ke publik lebih luas.

Kalau kamu ingin mendalami sejarah klenteng ini lebih jauh, travel agent Wisatamu Tour Travel  menyediakan paket kunjungan yang menggabungkan Cu An Kiong dengan dua klenteng bersejarah lain di sekitarnya, yaitu Klenteng Gie Yong Bio dan Klenteng Bao An Bio, lengkap dengan pemandu yang paham detail sejarah masing-masing bangunan.

Karena nilai historisnya yang tinggi, saat ini pemerintah tengah mengusulkan Klenteng Cu An Kiong menjadi cagar budaya nasional. Beberapa pejabat, termasuk Wakil Menteri Kebudayaan, sudah berkunjung langsung untuk mendukung proses ini, sebagai bentuk keseriusan menjaga warisan budaya Tionghoa di Indonesia.

Lokasi dan Cara Menuju Klenteng Cu An Kiong

Klenteng ini beralamat di Jalan Dasun Nomor 19, Desa Soditan, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Lokasinya berada sekitar 100 meter dari jalan raya Lasem-Rembang, persis di depan Sungai Lasem.

Kalau kamu datang dari arah Semarang, perjalanan menuju Lasem biasanya memakan waktu sekitar 3 sampai 4 jam tergantung kondisi lalu lintas di jalur pantura. Setibanya di kawasan Soditan, kamu tinggal mengikuti jalan menuju kompleks pecinan, dan gapura bernaga khas klenteng ini akan mudah dikenali dari kejauhan.

Aktivitas yang Bisa Kamu Lakukan di Sana

Selain menikmati arsitektur dan sejarahnya, ada beberapa hal lain yang bisa kamu lakukan selama berkunjung ke Klenteng Cu An Kiong:

  • Mengamati detail ukiran naga dan phoenix di teras klenteng
  • Menelusuri mural mitologi Fengshen Yanyi di dinding bagian dalam
  • Melihat Monumen Perjuangan Laskar Tionghoa dan Jawa di halaman klenteng
  • Belajar sejarah akulturasi budaya Tionghoa-Jawa dari pemandu lokal
  • Melanjutkan perjalanan ke dua klenteng lain di sekitar Lasem dalam satu rute

Tips Praktis Sebelum Berkunjung

Beberapa hal ini bisa bikin kunjunganmu ke Klenteng Cu An Kiong lebih nyaman dan berkesan:

  • Datang di luar waktu ibadah agar tidak mengganggu jemaah yang sedang bersembahyang
  • Hormati aturan setempat, termasuk larangan memotret altar utama Ma Zu
  • Kenakan pakaian sopan mengingat ini adalah tempat ibadah aktif, bukan sekadar objek wisata
  • Gunakan pemandu lokal supaya kamu paham makna di balik tiap ukiran dan mural
  • Kalau bertepatan dengan perayaan Imlek, datanglah lebih awal karena suasana biasanya jauh lebih ramai dan meriah

Kesimpulan

Klenteng Cu An Kiong bukan sekadar bangunan tua yang kebetulan masih berdiri sampai sekarang. Ia adalah saksi bisu perjalanan panjang komunitas Tionghoa di pesisir utara Jawa, tempat perdagangan, keyakinan, dan perjuangan bertemu dalam satu bangunan yang tetap kokoh meski usianya sudah ratusan tahun.

Kalau kamu sedang merencanakan perjalanan budaya ke Rembang, luangkan waktu untuk berdiri di depan gapura bernaga ini dan menyusuri setiap sudutnya. Kamu bukan cuma akan melihat bangunan bersejarah, tapi juga ikut merasakan bagaimana dua budaya bisa hidup berdampingan selama berabad-abad.

FAQ Seputar Klenteng Cu An Kiong Lasem

1. Di mana lokasi Klenteng Cu An Kiong? Klenteng ini berada di Jalan Dasun Nomor 19, Desa Soditan, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

2. Kapan Klenteng Cu An Kiong dibangun? Tidak ada catatan pasti, tapi diperkirakan berdiri sekitar abad ke-15 hingga ke-16. Beberapa sumber menyebut angka tahun 1335 atau 1477.

3. Apakah benar Cu An Kiong klenteng tertua di Jawa? Banyak sejarawan lokal meyakini demikian, meski belum ada catatan resmi yang membuktikan secara pasti.

4. Siapa dewa utama yang dipuja di klenteng ini? Dewi Samudra Ma Zu, yang dipercaya sebagai pelindung para pelaut dan menjadi pusat ibadah utama di klenteng ini.

5. Apakah pengunjung boleh memotret di dalam klenteng? Boleh di sebagian besar area, tapi ada larangan khusus memotret figur Ma Zu di altar utama sebagai bentuk penghormatan.

6. Apa saja yang bisa dilihat di sekitar Klenteng Cu An Kiong? Ada Monumen Perjuangan Laskar Tionghoa dan Jawa, serta dua klenteng lain di sekitar Lasem yaitu Gie Yong Bio dan Bao An Bio.

7. Apakah Klenteng Cu An Kiong pernah dipakai untuk syuting film? Pernah. Klenteng ini menjadi salah satu lokasi syuting film Ca-Bau-Kan pada tahun 2002.

Sebelumnya

8 Makanan Kekinian Aceh Singkil yang Wajib Dicicipi, Ada Mie Aceh Seafood hingga Dessert Durian

Wisata Rakyat