JAKARTA

Setu Pedongkelan Depok , Oase Air di Perbatasan Jakarta yang Menyimpan Cerita Transformasi

Gambar : InilahDepok

Wisatarakyat.com – Di tengah padatnya permukiman dan lalu lintas kawasan timur ibu kota, masih ada ruang terbuka yang menawarkan jeda sejenak dari hiruk pikuk kota. Namanya Setu Pedongkelan. Berlokasi di Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, dan berbatasan langsung dengan wilayah Jakarta Timur, setu ini menjelma menjadi alternatif wisata air sederhana yang kian dikenal warga sekitar.

Tak sekadar danau alami, Setu Pedongkelan menyimpan kisah panjang tentang konservasi, dinamika wilayah perbatasan, hingga tantangan pengelolaan wisata berbasis masyarakat.

Ruang Terbuka Hijau yang Bertransformasi

Secara geografis, Setu Pedongkelan memiliki luas sekitar 6,25 hektare dengan kedalaman maksimal mencapai kurang lebih 4 meter. Fungsi utamanya sejak awal adalah sebagai kawasan resapan dan penampungan air untuk mengurangi risiko genangan di wilayah sekitar.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, peran ekologis itu diperluas menjadi fungsi rekreasi. Pengelolaan yang melibatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat mendorong kawasan ini tampil lebih tertata. Gerbang masuk bercat biru dengan papan bertuliskan “Selamat Datang di Wisata Air Setu Pedongkelan” menjadi penanda bahwa area ini terbuka bagi publik.

Di tepi danau, suasana terasa lebih santai. Pepohonan rindang mengelilingi setu, sementara area lapang di sisi tertentu kerap dimanfaatkan warga untuk aktivitas olahraga seperti voli hingga sore menjelang malam.

Transformasi ini menunjukkan bagaimana ruang konservasi dapat berjalan berdampingan dengan wisata berbasis komunitas—meski tetap menyisakan sejumlah catatan.

Daya Tarik Utama: Sepeda Air Warna-Warni

Salah satu magnet utama Setu Pedongkelan adalah wahana sepeda air berbentuk bebek, angsa, hingga kuda laut. Dermaga sederhana menjadi titik keberangkatan pengunjung yang ingin mengayuh perahu menyusuri permukaan danau.

Aktivitas ini kerap menjadi pilihan keluarga, terutama pada akhir pekan. Dengan kapasitas maksimal tiga orang dalam satu perahu, wahana ini cukup diminati anak-anak maupun remaja yang ingin merasakan sensasi berkeliling setu tanpa harus memiliki kemampuan khusus.

Harga tiket yang berlaku pada 2026 dipatok sekitar:

  • Rp15.000 per perahu untuk hari biasa
  • Rp20.000 per perahu saat Sabtu, Minggu, dan hari libur

Durasi permainan rata-rata sekitar 15 menit untuk satu kali sesi.

Bagi sebagian pengunjung, tarif tersebut masih terjangkau. Namun tak sedikit pula warga yang menilai durasi permainan relatif singkat dibandingkan biaya yang dikeluarkan, terutama bagi keluarga dengan beberapa anak.

Dinamika Harga dan Jumlah Pengunjung

Belakangan, suasana Setu Pedongkelan pada hari kerja terpantau lebih lengang. Beberapa warga menyebutkan bahwa kenaikan tarif wahana menjadi salah satu faktor berkurangnya minat kunjungan.

Fenomena ini menjadi refleksi menarik tentang keseimbangan antara keberlanjutan ekonomi pengelola dan daya beli masyarakat sekitar. Di satu sisi, pengelolaan dan perawatan kawasan tentu membutuhkan biaya operasional. Di sisi lain, wisata berbasis komunitas umumnya mengandalkan segmentasi pengunjung lokal dengan sensitivitas harga yang cukup tinggi.

Kondisi tersebut menuntut strategi kreatif agar Setu Pedongkelan tetap kompetitif sebagai destinasi rekreasi murah meriah di kawasan penyangga Jakarta.

Setu di Wilayah “Nanggung”: Antara Depok dan Jakarta

Salah satu keunikan Setu Pedongkelan adalah letaknya yang tepat di perbatasan administratif Kota Depok dan Jakarta Timur. Secara wilayah, setu ini masuk dalam Kelurahan Tugu, Depok. Namun jaraknya yang sangat dekat dengan Jakarta membuat kawasan ini terasa seperti berada di dua kota sekaligus.

Posisi “nanggung” ini memunculkan dinamika tersendiri, terutama dalam hal pengelolaan kebersihan dan infrastruktur. Warga sekitar kerap membandingkan respons pemerintah daerah dalam menangani sampah dan fasilitas umum.

Kondisi tersebut menjadi cerminan tantangan klasik kawasan perbatasan: koordinasi lintas wilayah yang belum selalu berjalan ideal. Padahal, keberhasilan destinasi wisata lokal sangat bergantung pada sinergi antar-pemangku kepentingan.

Jejak Masa Lalu: Dari Limbah Pabrik ke Destinasi Wisata

Tak banyak yang mengetahui bahwa sekitar dua dekade lalu, Setu Pedongkelan pernah berada dalam kondisi memprihatinkan. Kawasan ini disebut-sebut menjadi lokasi pembuangan limbah kain dan sampah industri dari pabrik-pabrik sekitar.

Sebagian area bahkan mengalami penyusutan akibat pengurukan dan alih fungsi lahan menjadi permukiman. Pendangkalan pun sempat menjadi persoalan serius.

Upaya pengerukan lumpur yang dilakukan beberapa waktu lalu menjadi langkah penting untuk menjaga kedalaman dan daya tampung air. Kini, wajah Setu Pedongkelan jauh lebih tertata dibanding masa lalunya.

Perubahan ini menunjukkan bahwa revitalisasi ruang air perkotaan bukan hal mustahil, selama ada kepedulian bersama.

Alternatif Wisata Sore untuk Warga Depok dan Jakarta Timur

Bagi warga Depok maupun Jakarta Timur yang ingin mencari suasana santai tanpa harus bepergian jauh, Setu Pedongkelan bisa menjadi pilihan. Mengayuh sepeda air sambil menikmati angin sore, atau sekadar duduk di tepi danau menyaksikan matahari mulai turun, menjadi pengalaman sederhana yang tetap berkesan.

Meski demikian, pengunjung disarankan menyiapkan anggaran sesuai tarif yang berlaku serta mempertimbangkan waktu kunjungan agar suasana lebih nyaman.

Ke depan, tantangan terbesar Setu Pedongkelan bukan hanya soal jumlah pengunjung, melainkan bagaimana menjaga keseimbangan antara fungsi ekologis, kepentingan ekonomi warga, dan tata kelola wilayah perbatasan.

Jika dikelola secara konsisten dan kolaboratif, bukan tidak mungkin Setu Pedongkelan berkembang menjadi ikon wisata air lokal yang membanggakan Kota Depok.

Sebelumnya

Curug Leuwi Lieuk Bogor: Lokasi, Harga Tiket, Jam Buka, Daya Tarik dan Fasilitas

Wisata Rakyat