Benteng Inong Balee, Saksi Ketangguhan Pasukan Perempuan Aceh di Pesisir Krueng Raya
Wisatarakyat.com – Aceh tidak hanya dikenal lewat keindahan alam dan budaya Islam yang kuat, tetapi juga menyimpan jejak sejarah perjuangan perempuan yang luar biasa. Salah satu peninggalan bersejarah yang masih berdiri hingga kini adalah Benteng Inong Balee, sebuah benteng tua yang berada di kawasan Teluk Krueng Raya dan menghadap langsung ke Samudra Hindia.
Benteng ini menjadi simbol keberanian para perempuan Aceh pada masa Kesultanan Aceh, khususnya pasukan Inong Balee yang dipimpin oleh Laksamana Malahayati. Meski kini hanya menyisakan reruntuhan, daya tarik sejarah dan panorama lautnya masih mampu memikat wisatawan maupun pencinta sejarah.
Dibangun oleh Laksamana Malahayati pada Abad ke-16
Benteng Inong Balee dibangun sekitar tahun 1599 oleh Laksamana Malahayati, sosok perempuan pejuang yang dikenal sebagai laksamana wanita pertama di dunia. Benteng ini awalnya difungsikan sebagai markas pasukan Inong Balee, yakni kelompok tentara perempuan yang sebagian besar terdiri dari para janda perang.
Nama “Inong Balee” sendiri memiliki arti “perempuan janda” dalam bahasa Aceh. Pasukan tersebut dibentuk setelah banyak suami mereka gugur dalam peperangan melawan Portugis di wilayah Laut Haru. Dari sekitar 1.000 anggota awal, jumlah pasukan kemudian berkembang menjadi sekitar 2.000 perempuan, termasuk gadis-gadis muda yang ikut bergabung untuk mempertahankan Kesultanan Aceh.
Keberadaan benteng ini bukan sekadar tempat pertahanan militer. Kawasan tersebut juga digunakan sebagai pusat pelatihan perang, tempat tinggal para janda pejuang, hingga pusat logistik militer kerajaan.
Lokasi Strategis Mengawasi Jalur Laut
Salah satu alasan utama benteng ini dibangun di kawasan Krueng Raya adalah lokasinya yang sangat strategis. Benteng berada di atas bukit dengan ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut. Dari titik tersebut, pasukan Inong Balee dapat memantau setiap kapal yang masuk ke pelabuhan Kesultanan Aceh.
Posisi ini membuat tentara Aceh lebih mudah mengawasi dan menyerang kapal-kapal musuh, termasuk armada Portugis dan Belanda yang kala itu berupaya menguasai jalur perdagangan di wilayah Aceh.
Kini, lokasi benteng justru menjadi salah satu daya tarik wisata. Pengunjung dapat menikmati panorama Teluk Krueng Raya dengan hamparan laut biru yang berpadu dengan suasana historis peninggalan kerajaan masa lalu.
Struktur Benteng yang Masih Tersisa
Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Badan Arkeologi Medan, Benteng Inong Balee memiliki bentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 60 x 40 meter. Dinding benteng tersusun dari batu dengan ketebalan mencapai 2 meter dan tinggi sekitar 2,5 meter.
Pada bagian dinding terdapat lubang-lubang setengah lingkaran yang dahulu digunakan untuk mengawasi teluk sekaligus titik pertahanan pasukan. Meski sebagian besar bangunan telah rusak akibat usia dan faktor alam, beberapa bagian benteng masih dapat ditemukan hingga sekarang.
Sisa dinding barat lengkap dengan beberapa loop pertahanan, bagian dinding utara, serta pondasi struktur timur menjadi bukti kejayaan benteng ini pada masa lampau.
Wisata Sejarah dengan Panorama Laut Aceh
Berbeda dengan benteng bersejarah lain yang hanya menawarkan nilai edukasi, Benteng Inong Balee juga menghadirkan pengalaman wisata alam. Dari area benteng, pengunjung dapat melihat langsung pemandangan laut terbuka, perbukitan, hingga aktivitas di sekitar Pelabuhan Malahayati.
Suasana tenang dengan hembusan angin laut membuat kawasan ini cocok dijadikan tempat menikmati senja maupun wisata sejarah bersama keluarga.
Tidak jauh dari lokasi benteng, terdapat pula makam Laksamana Malahayati yang sering dikunjungi wisatawan dan peziarah. Kehadiran situs tersebut semakin memperkuat nilai historis kawasan Krueng Raya sebagai salah satu pusat perjuangan Kesultanan Aceh.
Jejak Kampung Inong Balee
Di sekitar kawasan benteng juga terdapat sebuah perkampungan yang dikenal sebagai Desa Inong Balee atau Desa Janda. Wilayah ini dipercaya menjadi tempat tinggal para anggota pasukan perempuan Aceh pada masa lalu.
Keberadaan desa tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan perempuan Aceh yang terkenal tangguh dan berani menghadapi penjajah. Hingga kini, kisah tentang pasukan Inong Balee masih menjadi inspirasi tentang semangat patriotisme dan peran perempuan dalam sejarah Nusantara.
Penutup
Benteng Inong Balee bukan hanya reruntuhan bangunan tua di pesisir Aceh. Tempat ini merupakan simbol perjuangan, keberanian, dan kecerdasan strategi militer perempuan Aceh pada masa Kesultanan Aceh.
Perpaduan antara nilai sejarah, kisah heroik Laksamana Malahayati, serta panorama Teluk Krueng Raya menjadikan Benteng Inong Balee layak masuk daftar destinasi wisata sejarah saat berkunjung ke Aceh.










