Bilah Nusantara, Monumen Ikonik GBK yang Menyimpan Filosofi Harmoni Indonesia
Wisatarakyat.com – Kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, tidak hanya dikenal sebagai pusat olahraga dan ruang publik, tetapi juga menyimpan simbol budaya yang kerap luput dari perhatian pengunjung. Salah satu ikon tersebut adalah sebuah bangunan memanjang berkilau yang berdiri di area Plaza Tenggara. Banyak orang mengenalnya sekadar sebagai kaldron api, padahal di balik desainnya tersimpan representasi keris raksasa yang sarat makna filosofis.
Bangunan bernama Bilah Nusantara ini bukan monumen biasa. Desainnya terinspirasi dari senjata tradisional Indonesia, khususnya Keris Majapahit, yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia. Namun, simbol tersebut tidak ditampilkan secara gamblang. Justru, konsep “tersirat” inilah yang menjadi daya tarik utama Bilah Nusantara.
Desain Tersamar, Makna Mendalam
Secara visual, Bilah Nusantara tampil seperti bilah logam besar yang menjulang ke langit. Banyak pengunjung tidak langsung menyadari bahwa bentuk tersebut merupakan stilasi keris, karena sebagian struktur bilahnya seolah tertanam ke dalam tanah. Pendekatan ini mencerminkan filosofi keris sebagai senjata yang tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan simbolik.
Motif yang menyelimuti badan kaldron bukan sekadar ornamen estetis. Pola tersebut merupakan stilasi pamor Keris Majapahit, yang dalam tradisi Jawa melambangkan keseimbangan, kekuatan batin, serta harmoni antara manusia dan alam. Nilai-nilai ini diterjemahkan ke dalam konteks kebangsaan sebagai simbol persatuan kepulauan Indonesia yang beragam.
Ukuran Monumental dan Presisi Arsitektural
Bilah Nusantara memiliki dimensi yang tidak biasa. Secara horizontal, panjang monumen ini mencapai sekitar 95 meter, menjadikannya salah satu struktur memanjang paling mencolok di kawasan GBK. Sementara itu, bagian vertikalnya menjulang setinggi kurang lebih 18 meter, melambangkan semangat yang terus tumbuh dan bergerak menuju puncak pencapaian.
Menariknya, kemiringan bangunan ini dirancang dengan perhitungan matang agar selaras dengan kemiringan Stadion Utama GBK. Detail arsitektural tersebut menunjukkan bahwa Bilah Nusantara tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari kesatuan lanskap dan filosofi kawasan olahraga nasional.
Warisan Asian Games 2018
Diresmikan pada 2018, Bilah Nusantara menjadi salah satu saksi bisu perhelatan Asian Games yang digelar di Jakarta dan Palembang. Monumen ini merupakan hasil kolaborasi seniman Sunaryo sebagai pengonsep dengan arsitek Gregorius Supie Yolodi sebagai perancang teknis. Kolaborasi tersebut menghasilkan karya yang tidak hanya monumental secara visual, tetapi juga kuat secara narasi budaya.
Kini, Bilah Nusantara berkembang menjadi ruang publik favorit. Banyak pengunjung memanfaatkannya sebagai tempat bersantai, berfoto, atau sekadar beristirahat setelah berolahraga. Namun, memahami makna di balik bentuknya akan memberikan pengalaman yang jauh lebih bermakna.
Ikon Budaya di Tengah Ruang Modern
Kehadiran Bilah Nusantara menunjukkan bagaimana simbol budaya tradisional dapat dihadirkan secara relevan di ruang publik modern. Keris, yang selama ini identik dengan benda pusaka, diterjemahkan dalam skala raksasa sebagai lambang energi, persatuan, dan semangat bangsa.
Bagi masyarakat yang berkunjung ke GBK, menyempatkan diri singgah di Plaza Tenggara bukan hanya soal melihat monumen, tetapi juga memahami cerita tentang identitas dan filosofi Indonesia yang terukir dalam wujud Bilah Nusantara.












